Gubernur
Pilihan Umar bin Abdul Aziz, dari Kalangan Orang-Orang Shalih Lagi Baik
Gubernur
yang dipilih oleh umar adalah gubernur yang tsiqah (kredibel), orang-orang
mulia lagi baik yang terkenal dengan amanah, ilmu, kekuatan pribadi, tawadu’,
kebersihan diri, ‘adalah, berakhlaq mulia, berkasih sayang kepada
rakyat, bisa menjadi teladan, berkenan bermusyawarah, tulus, tidak egois,
kapabel, cerdik dan bijak.
Bagaimana
umar memilih gubernur? Lihatlah apa yang dikatakan pada Amr bin al-Muhajir
al-Anshari, seorang di antara pengawalnya
“Demi
Allah, wahai Amr, sesungguhnya kamu mengetahui bahwa antara diriku dengan
dirimu tidak ada hubungan kekerabatan selain hubungan Islam, akan tetapi aku
mendengarmu sering membaca Al Qur’an, aku melihatmu shalat di tempat yang
menurutmu tidak terlihat oleh seseorang, aku melihatmu shalat dengan baik,
ambillah pedang ini dan sekarang kamu adalah kepala pengawalku”
Umar
tidak suka mengangkat seseorang yang terbenam dalam kedzaliman atau bekerja
bersama orang-orang yang bertindak dzalim. Jika khalifah sebelumnya menjadikan
kekerabatan dan fanatisme menjadi pijakan dalam mengangkat seseorang, tidak
bagi umar. Tidak juga seperti seorang Hajjaj, yang memimpin dengan kekerasan,
dan menghukum hanya dengan dasar praduga.
Hal
ini memberikan efek positif bagi kestabilan negeri, karena masyarakat menerima
sirah para gubernur mereka dan memuji tingkah laku mereka.